Minggu, 17 April 2016
Random Talk Random Post
Jadi ceritanya ini berawal pas gue lagi curhat ama temen gue, namanya Kibe. Gue curhat tentang cewek yang lagi bikin gue penasaran (belum bisa dibilang suka, soalnya baru kenal). Jadi ceritanya si cewek ini jago olahraga. Nah, di sisi lain gue nggak jago olahraga sama sekali. Berhubung si Kibe ini atlit sepakbola, futsal, basket, dan taekwondo, maka wajar kalo gue cari info tentang cewek ini dari dia. Dan bener ternyata asumsi gue, bahwa si Kibe ini tau tentang cewek itu. Tapi sayangnya nggak kenal. Si Kibe ini bukannya ngasih solusi, eh malah ngetawain gue. Sebenernya bukan cuma Kibe sih yang ngetawain. Dari dulu pun orang-orang ngetawain gue gara-gara gue nggak suka dan nggak bisa main sepak bola. Tapi bukan ketawa ngerendahin, ya cuma ketawa aja.
Gue bilang deh ke Kibe dengan sebuah pengandaian. "Bayangin nih be, ada kos-kosan yang dihuni 3 mahasiswa. Si A, B, dan C. Ini peristiwa terjadi pas bulan puasa. Semuanya ini pada dasarnya males puasa. Tapi karena saling menghormati, akhirnya mereka puasa. Si A pikir dia bakalan ga enakan sama B dan C kalo ga puasa. Begitupun pula dengan B dan C satu sama lain. Jadinya, mereka puasa bukan karena keinginan sendiri."
"Trus hubungannya apaan?" tanya Kibe.
"Begitupun dengan gua Be. Gue tau sejak SD bahkan, kalo gue ngupdate tentang bola dan ikutan main sepak bole, itu ya biar ada temen main dan temen obrolan aja di sekolah. Persis kayak cerita ttg A,B, dan C di kos-kosan tadi. Tapi pas mulai masuk kuliah, gue udah tegaskan diri nggak mau melakukan sesuatu yang nggak gue ingin, dalam hal ini main bola. Berhubung semakin dewasa, akhirnya orang-orang makin menghargai pilihan masing-masing, akhirnya gue pun makin yakin untuk nggak terlibat dalam segala hal yang berurusan dengan sepak bola," ujar gue.
"Tapi tetep aja lo musti minimal ngikutin bola lah, kalo pengen punya bahan obrolan ama dia," kata Kibe.
Sampai akhir pembicaraan pun gue tetep bersikukuh untuk melakukan sesuatu karena gue ingin, bukan karena ikut-ikutan kayak contoh si ABC itu.
Oke pembicaraan gue ama Kibe selesai.
Tapi masih ada yang mengganjal di pikiran gue. Peristiwa mahasiswa ABC (kita sebut saja demikian) itu namanya apa ya? Karena gue rasa ini penting. Banyak orang melakukan hal sejenis ABC tadi, melakukan hal bukan karena dia ingin. Kayak semisal lagi, ada pertunjukkan stand up comedy. Si komikanya itu nggak lucu banget. Tapi orang-orang masih aja tepuk tanganin dia, meskipun terpaksa. Gue pernah iseng nanya ke yang tepuk tangan pas lagi ada suatu pertunjukan stand up, dan dia bilang, "gak apa apa, ikut-ikutan aja, lagipula kasian." Well, gue heran kenapa begitu murahnya dia kasih apresiasi ke itu orang.
Balik lagi. Ini namanya fenomena apa?
Akhirnya gue tanya ke temen 1 kontrakan gue, anak Sosiologi, namanya Oji. Katanya, itu adalah problem pilihan rasional. Dia pakai teorinya Weber. Tapi gue nggak setuju dengan hal ini. Yang gue tanya itu bukan alasan si individunya, melainkan fenomenanya.
Oji pun mengakui agak susah kalau ini bukan dibahas secara strukturalis. Lagipula, dia cuma punya contoh-contoh yang strukturalis. Semisal kenapa orang-orang masuk sekolah polisi pake sogokan segala, padahal kalau nggak nyogok pun masih bisa. Katanya Oji sih ya karena ada yang melanggengkan itu, yaitu birokrasi internal kepolisian. Itu kalo contoh yang struktural.
Tapi Oji punya pengalaman yang sama contohnya dengan ilustrasi mahasiswa ABC gue tadi. Jadi dulu Sosiologi 2011 sering ngadain futsal, buat ngerekatin persahabatan gitu deh. Tapi sebenernya nggak semuanya suka dan pengen main futsal. Tapi mau gamau futsal pun dipilih gara-gara ada 1 orang yang ngebet banget pengen futsalan sama Sosiologi 2011. Gue gatau namanya siapa, dan lagipula nggak penting juga sih menurut gue. Tapi sebut saja si X. Pada awalnya, futsal selalu berjalan. Tapi lama-lama pada cabut dan nggak pernah main futsal lagi. Gara-garanya, semua kemudian menyadari bahwa selama ini futsalan cuma sekedar nggak enakan sama si X tadi.
Hegemoni. Ah, kayaknya itu ada hubungannya sama hegemoni. Contoh kasus mahasiswa ABC misalnya. Mereka saling puasa karena ada hegemoni nilai-nilai religius yang sudah terlebih dahulu ada di masyarakat. Si A merasa mesti puasa biar keliatan religius oleh B dan C. Begitupun sebaliknya.
Sedangkan kasus futsalannya Oji misalnya, itu terjadi karena ada hegemoni yang dilakukan si X melalui serangkaian upaya-upaya persuasif dan propagandik.
Tapi ada yang berbeda.
Pada kasus futsalannya Oji, si X bertindak sebagai sang Hegemon (pihak yang memproduksi dan pereproduksi nilai hegemonik). Si X berusaha menjaga keberlangsungan nilai-nilai yang ia emban, kepada anak-anak Sosiologi 2011.
Sedangkan pada kasus mahasiswa ABC, sang Hegemon tidak terdapat pada naskah. Sang hegemon yang berupa penjaga nilai-nilai religius bukan si ABC, melainkan ustad, kyai, pendeta, santo, uskup, klerik, biksu, dukun, teolog dan sebagainya. Gue nggak bisa ngebayangin apa yang bakal terjadi pada ABC tadi, tapi bisa ditebak mereka hanya akan puasa selama 1 minggu dan sisanya bolos puasa bersama.
Tapi tetep aja ada yang aneh.
Teori tentang Hegemoni dari Antonio Gramsci nggak pernah ngajarin hal-hal sepele kayak gini. Dia selalu berangkat dari analisis klas a la Marx. Bahwa ada dua macam klas yaitu klas yang yang berkuasa (rulling class) dan klas yang dikuasai (rulled class). Klas berkuasa bisa berlangsung karena menguasai alat produksi dan hubungan produksi ekonomi (basis struktur) dan juga perangkat represif dan ideologisnya seperti politik dan kebudayaan (super struktur). Nah kalau perangkat represif ini beroperasi dengan cara-cara kekerasan seperti segala hal yang berhubungan dengan senjata, pentungan, dan penjara, maka perangkat ideologis ini beroperasi dengan cara-cara non kererasan melalui propaganda, pendidikan, atau penanaman nilai budaya. Yang kedua itulah ranah hegemoni, yaitu upaya klas berkuasa untuk membuat klas yang dikuasai bisa sepakat dengan sistem yang berlangsung melalui cara-cara non fisik.
Tapi bicara tentang Gramsci, ini malah tambah aneh.
Apalagi kalau dikontekskan dengan masyarakat Indonesia. Coba deh kalo ngeliat rumah-rumah orang-orang Indonesia. Pasti ada aja stiker partai politik, ormas, atau tokoh tertentu di pintu atau jendela rumahnya. Atau juga di kendaraannya. Kalau dia itu adalah anggota organisasi politik, ya wajar. Kalau bukan?
Sama aja kayak pas lagi masa pemilu, trus kita nongkrong aja coba di warteg, warkop, terminal atau tempat publik apapun. Pasti ada aja deh orang-orang ngobrolin politik dan saling ngejagoin calonnya masing-masing. Kalau dia itu bagian dari tim sukses sih, wajar. Kalau bukan?
Kita pasti deh punya temen yang pas Pemilu 2014 ikutan jadi tim sukses Prabowo maupun Jokowi. Mereka nggak dibayar, ataupun dibayar tapi cuma palingan 100 ribu. Dan mereka keliatan aktif banget ngebela calon dan keyakinan politik yang mereka anut.
Contoh lagi. Di suatu desa ada dua mushola. Yang satu haluannya NU, yang satu Muhammadiyah. Kalo sampe terjadi ribut-ribut masalah agama, kita tau ini gara-gara apa. Tapi anehnya, di satu desa itu semuanya tani miskin (ya ada sih yang tani sedang, tapi ga ada yang tani kaya). Pasti di desa yang pernah kalian temui ada aja hal kayak gini.
Contoh lagi (biar banyak). Ada anggota ormas preman fasis reaksioner kanan yang suka narik jatah parkiran dan jatah pengamanan pasar. Nggak perlu sebut nama soalnya ormas kayak ini sebenernya nggak cuma satu jenis, tapi banyak banget. Kita bisa imajinasikan sendiri ormas apa ini. Coba kita fokus ke anggotanya. Satu aja. Kita ambil yang paling sering narikin jatah preman. Dia ini biasanya paling setia ama organisasi. Kalau ada perang rebutan lahan parkir lawan sesama ormas preman, dia biasanya mati duluan. Tapi anehnya mereka sama-sama miskinnya dengan klas pekerja lainnya. Mereka juga dihimpit harga sembako, biaya pendidikan anak, kesehatan, listrik, dan sewa rumah yang semakin mahal.
Di Indonesia banyak banget dan akan masih banyak lagi contoh kayak gini. Yaitu orang-orang yang membela keyakinan sesuatu yang padahal itu menyakiti dan merugikan dirinya sendiri. Apalagi di Indonesia banyak banget organisasi dengan berbagai keyakinan politiknya.
Gue nggak habis pikir kenapa orang-orang begitu murahnya menyerahkan diri mereka ke hal yang bahkan mereka tidak nikmati.
Kalo ini karena suatu kemiskinan, nggak juga. Gue punya kenalan. Dia ini kerja di perusahaan rokok. Yang jelas dia bukan pegawai atasan. Bisa dibilang menengah lah. Dia ini berpandangan liberal a la Partai Republiknya AS. Negara harus melindungi kepemilikan pribadi, bebas pajak, menyerahkan segalanya ke individu, dan sebagianya. Dia suka ngejelek-jelekin gerakan buruh (padahal dia sendiri buruh). Tapi gue nggak ngerti apa maksud dia. Dia ini nggak diuntungkan sama sekali dari pandangan politik yang ia anut, tapi masih aja dipertahanin. Kalo nantinya bakalan naik pangkat, toh kerja di perusahaan rokok nggak perlu punya pandangan politik liberal. Asalkan disiplin dan punya skill, pasti naik pangkat.
Jadi, di Indonesia ini ada banyak banget orang yang melakukan sesuatu bukan karena ingin. Ada pula yang melakukan sesuatu karena ingin berdasar keyakinan, tapi sebenarnya itu merugikan dirinya sendiri. Ada banyak banget hegemon-hegemon di Indonesia. Hampir semua orang terus mereproduksi suatu pandangan politik, begitu saja, dengan murahnya. Orang Indonesia itu gampang banget dibeli pandangan politiknya, dan murah, bahkan gratis.
Trus kalo pake teori Hegemoni Gramsci, ini jadi agak susah. Karena banyak hegemon yang bukan bagian dari klas yang berkuasa, tapi bukan melakukan konter hegemoni, dan malahan turut melanggengkan sistem juga. Contohnya ya hegemon di desa yang isinya tani miskin, preman yang setia membela nama baik ormas fasisnya, maupun para relawan atau tim sukses pas lagi pemilu. Padahal kalo pake Gramsci, yang namanya hegemoni itu ya erat kaitannya dengan klas yang berkuasa. Nah ini, berkuasa nggak, miskin iya, tapi mau-maunya jadi hegemon.
Ah
Akhirnya gue sama Oji nemu alat analisis yang tepat buat fenomena ini yaitu "Kesadaran Palsu" nya Marx. Karl Marx sebenarnya nggak pernah pake istilah kesadaran palsu dalam menjelaskan fenomena kesadaran kelas proletariat. Terma ini pertama kalinya muncul dalam tulisan Friedrich Engels, yakni dalam suratnya kepada Franz Mehring (14 Juli 1898) :
“Ideologi adalah sebuah proses yang dicapai dengan sadar oleh seorang pemikir, atau lebih tepatnya sebuah kesadaran palsu. Motif nyata yang mendorongnya sesungguhnya adalah sesuatu yang asing baginya; jika tidak demikian maka itu bukanlah sebuah proses ideologis. Makanya ia hanya membayangkan sesuatu yang palsu atau yang tampak permukaan saja. Karena ideologi ini adalah sebuah proses pemikiran, maka bentuknya berasal dari murni hasil pemikiran, apakah itu pemikirannya sendiri atau orang lain sebelum dirinya. Ia bekerja melulu dengan materi pikirannya, yang ia terima tanpa mengujinya sebagai sebuah produk pemikiran dan tidak menginvestigasi lebih lanjut demi kepentingan pemikiran independen yang lebih rinci; tentu saja ini adalah masalahnya sendiri, karena seluruh tindakan yang dimediasi oleh pikiran, pada akhirnya muncul padanya atas dasar pikirannya.”
Nah, itu dia. Bekerja melulu dengan materi pikiran yang ia terima tanpa mengujinya dan tidak diinvestigasi lebih lanjut. Inilah mungkin yang bisa merangkum serangkaian contoh dengan anasir-anasir yang berbeda satu sama lain, tapi memiliki substratum yang sama.
Gilak bahaya banget ini kesadaran palsu. Beruntung banget gue tau tentang hal ini. Jangan-jangan gue juga punya sejenis kesadaran palsu juga ya? Tapi semoga aja nggak.
Tapi ini sebenarnya belum bisa dibilang selesai. Darimana munculnya kesadaran palsu itu? Kenapa suatu kesadaran palsu bisa terus direproduksi? Kenapa direproduksi? Siapa yang mereproduksi? Bagaimana pula mengakhirinya? Yah, tulisan ini emang nggak bermaksud menjawab itu semua. Namanya juga random talk random post.
Bye ~
Sabtu, 09 April 2016
Menyoal Perda Banyumas tentang Penanggulangan Penyakit Masyarakat
Di hari itu inderawi massa demonstran menjadi saksi. Betapa anehnya pembuatan hukum di daerah ini. Perihal Perda yang sedang ramai dibacarakan itu, yaitu Perda Banyumas No.16 Tahun 2015 tentang Penyakit Masyarakat, ada banyak yang aneh di dalamnya. Ada pasal yang hilang, nomor yang loncat, tumpang tindih peraturan, dan masih banyak lainnya. Barangkali bukan kata “aneh”, tapi “cacat”, kata yang cocok menggambarkan Perda ini.
Tapi yang namanya membuat Perda itu pekerjaan sulit. Barangkali saja kecacatan itu terjadi karena komputernya rusak sewaktu di-print. Saya sebagai warga biasa pun tak mau su’udzon. Di benak saya, tidak mungkin pejabat pembuat Perda melakukan hal memalukan seperti itu. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya ke Bupati Banyumas, pada momen demonstrasi yang dilakukan Simalakama (Aliansi Masyarakat Menolak Perda Penyakit Masyarakat) Jumat 18 Maret kemarin. Bupati adalah yang turut mengesahkan Perda itu, melalui bubuhan tanda tangannya. Pastilah Bupati bisa menjawab pertanyaan saya, pikir saya pada waktu itu.
Saya bertanya. Kemudian Bupati menjawab. Dan jawaban Bupati kurang mengenakkan. “Mengenai hilangnya beberapa Pasal dalam Perda nanti kita bicarakan bersama DPRD, saya kan cuma tanda tangan, saya nggak baca semua,” tutur Bupati dengan nada meyakinkan. Saya hanya bisa terbengong, meski Bupati sangat terlihat percaya diri. Bukankah ini mengkhawatirkan sekali? Seorang kepala daerah yang dipilih oleh rakyat Banyumas, ternyata membuat Perda dengan cara serampangan seperti itu.
Rabu, 30 Maret 2016
Menempa Diri dengan Terlibat dalam Perjuangan
Tetapi tidak semua orang punya kemampuan untuk memperjuangkan haknya sendiri. Bahkan tidak semua orang mengerti akan hak-haknya. Karena tidak semua orang mempelajari hukum, semisal, yang memuat hak-hak warga negara. Tidak semua orang tau bagaimana caranya memperjuangkan hak.
Jumat, 27 November 2015
Salah Kaprah tentang Kelas Menengah Ngehek
Minggu, 22 November 2015
Pendidikan Mahal tuh Kayak Gimana Sih?
![]() |
| Sumber gambar : https://gunjanpriya.files.wordpress.com/ |
Selasa, 20 Oktober 2015
Resensi If a Tree Falls : A Story of Earth Liberation Front
(Tulisan ini pernah diposting di web LPM Pro Justitia, ditulis kembali dengan beberapa perubahan)
If a Tree Falls : A Story of Earth Liberation Front. Film dokumenter ini merupakan karya Marshall Curry dan Sam Cullman, yang dibuat pada tahun 2011, dan memenangkan 5 penghargaan, yang salah satunya Academy Awards pada tahun 2012. Film yang diproduksi oleh Films Transit ini, merupakan potret realitas kerusakan lingkungan di Amerika. Imperialisme, globalisasi, kapitalisme global, atau apapun itu namanya, telah membangkitkan kesadaran kaum environmentalis atau pecinta lingkungan, bahwa korporasi tidak akan berhenti mengeruk dan merusak planet, kecuali jika ada yang menghentikannya.
Film ini menceritakan tentang seseorang bernama Daniel McGowan, bersama teman-temannya yang tergabung dalam bernama Earth Liberation Front atau ELF. Daniel sendiri dijadikan terdakwa atas kejahatannya, yang oleh media disebut dengan eco-terrorism. Ia menghancurkan gedung produksi kayu dan laboratorium pendukung perusakan hutan.
Tadinya, kelompok ini bernama Earth First, sebuah kelompok anarkis-ekologis dengan metode perjuangan non-violent protest (protes damai). Dalam film ini, aksi Earth First ditayangkan dalam protesnya atas penebangan hutan di daerah Warner Creek. Selama berbulan-bulan Earth Fist memblokade jalan dan mendirikan tenda-tenda, bahkan membangun barikade untuk menghalau mesin-mesin berat. Namun setelah perlawanan mereka menghalau mesin-mesin berat yang hendak mengeruk dan merusak hutan gagal, mereka mengubah metode mereka. Mulailah mereka melakukan apa yang disebut dengan eco-sabotage.
Pada dasarnya eco-sabotage adalah sama halnya dengan property damage (perusakan barang) pada umumnya. Eco-sabotage adalah sabotase atas alat produksi milik korporasi maupun pemerintah yang melakukan perusakan alam. Bagi kaum anarkis, tindakan ini bukanlah sebuah kekerasan atau violence karena tidak ada satu orangpun yang terluka. Tindakan ini digunakan untuk menghentikan, atau setidak-tidaknya menghambat sirkuit ekonomi dari sistem kapitalisme. Dalam film ini, dikisahkan juga ada beberapa istilah yang digunakan dalam medan pertempuran environmentalis, seperti misalnya monkeywrenching, yang merupakan tindakan sabotase terhadap alat berat melalui perkakas sederhana secara diam-diam.
ELF percaya bahwa tindakan yang mereka lakukan tidaklah radikal. Bill Barton, seorang dari Native Forest Council, melihat bahwa yang dilakukan para anak muda itu hanyalah bagaimana menyelamatkan 5% lingkungan yang tersisa. Industri cenderung menyebut kelompok pecinta lingkungan sebagai radikal. Bill Barton mengatakan :
“Kenyataannya ialah bahwa 95% dari hutan-hutan yang tersisa di Amerika telah ditebangi. Bukanlah tindakan radikal, untuk menyelamatkan 5% yang masih tersisa. Yang radikal adalah yang menebangi 95% hutan. Inilah tindakan radikal.”
Daniel sendiri terlibat dalam dunia environmentalisme akibat dari sentuhan pertamanya dari sebuah tempat bernama Wetlands, atau lengkapnya ialah Wetlands Environmental Center. Pada dasarnya itu hanyalah sebuah bar, yang rutin mengadakan pertunjukkan. Namun keuntungan dari Wetlands ditujukan untuk menjalankan pusat kegiatan lingkungan. Dari situlah Daniel mengikuti pertemuan-pertemuan, dan juga penayangan film-film, bagaimana lingkungan bernama bumi dikeruk dan dirusak.
“Saya tak pernah melihat sendiri sebelumnya, seperti apa dunia yang kita tinggali ini. Saya merasa dalam suasana berkabung, dan sejak momen itu, saya tak tahu, saya seperti menjadi buta, seperti ‘holy crap, what the hell were we doing?’.” kenang Daniel saat masa-masa awal di Wetlands.
Dalam film ini juga ada suatu kisah, yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 1 Juli. Ada suatu tempat di Eugene, dimana terdapat 40 pohon yang sudah hidup lama sekali, pohon warisan. Di sisi lain, ada suatu perusahaan bernama Symantec, yang berniat mendirikan tempat parkir baru. Mereka membutuhkan bahan baku, dan akan memotong pohon dari situ. Namun begitu para aktivis berencana memobilisasi untuk menolak tindakan tersebut, Dewan Kota segera menyetujui penebangan pohon tersebut, sehari sebelum penebangan. Pada minggu pagi, pukul 2:30, para aktivis yang hanya berjumlah 11 mulai bersiap. Mereka mamanjat pohon-pohon itu dan berusaha melindunginya.
Pemerintah setempat menanggapinya dengan masker, pentungan, dan gas. Mereka membawa semprotan merica, merobek celana para aktivis, lalu menyemprotkannya ke bokong, kaki, dan selangkangan mereka. Jim Flynn, former editor Jurnal Earth First, yang juga salah satu aktivis yang menjadi sasaran aparat ini, merasakan betul kurang lebih 15 kaleng merica disemprotkan ke dirinya. Hal ini sontak menjadi perhatian warga sekitar. Mereka tidak terima dengan tindakan aparat. Mereka berupaya mendobrak pagar yang dijaga aparat, menekan agar tindakan tersebut dihentikan. Aparat menjawab hal tersebut dengan semprotan gas, yang diarahkan ke muka warga. Pohon tersebut akhirnya berhasil tumbang setelah 7 jam Flynn berada di atas sana. Ia lalu dimandikan, dan dibawa ke kantor polisi.
Di film ini juga ditayangkan keterlibatan Daniel dalam peristiwa Battle in Seattle. Itu adalah peristiwa bagaimana kekuatan massa berjumlah kurang lebih 10 ribu orang, mengepung kota Seattle yang menjadi kota tuan rumah Pertemuan World Trade Organization (WTO) pada tahun 1999. Mayoritas massa merupakan massa non-violence protester, yang memprotes secara damai. Meski begitu, aparat setempat tetap tidak tinggal diam meski hanya bersifat damai. Mereka memukul mundur massa dengan pentungan dan gas.
Daniel bergabung dengan sebagian kelompok kecil dari 10 ribu orang tadi, yang mengenakan pakaian serba hitam, yang kita kenal dengan black bloc. Mereka adalah kaum anarkis yang tidak percaya bahwa negara dan korporasi akan tunduk pada dansa di pinggir jalan, dan penyu raksasa, sebagaimana bentuk protes damai yang dilakukan orang-orang. Mereka percaya bahwa bagi negara dan korporasi yang hanya berpikir tentang kapital, adalah penting untuk membekuk pundi-pundi mereka, yakni melalui property damage. Kemudian mereka inilah, kaum yang melakukan perusakan atas toko-toko kapitalis itu, memecahkan jendela-jendela mereka, dan mencoret-coret tembok mereka. Empat hari pertempuran di Seattle ini adalah aksi pertama kali yang dapat menggagalkan pertemuan WTO sepanjang sejarah.
If a Tree Falls, adalah sebuah kisah bagaimana ternyata, sebuah aksi-aksi damai dan legal bukanlah metode yang tepat, untuk menghentikan serbuan korporasi untuk mengeruk dan merusak alam. Daniel dan kawan-kawannya telah membuktikannya. Bahwa hanya kekalahan dan rasa penyesalanlah yang akan menimpa seseorang, yang percaya pada aksi damai dan legal. Namun yang terpenting paska melakukan property damage, ialah mengemukakan alasan dibalik tindakan itu kepada publik. Sambil terus menerus menyebarkan pesan, untuk mengajak publik menyelamatkan planet mereka dari bencana yang ditimbulkan korporasi.
Rabu, 14 Oktober 2015
Senja yang Terhempas
![]() |
| (instagram.com/panjimulki) |
Saat itu memang tidak ada kesibukan yang biasa Senja lakukan. Karena belum lagi waktu kuliah datang untuk mengisi waktu-waktunya. Senja saat ini menjalani studinya pada ilmu hukum di suatu Universitas di Jawa Tengah. Bulan depan ia memasuki semester III (tiga) dalam studinya.
Pada mulanya memang tidak terbesit niat sedikitpun dalam hatinya melanjutkan studi ke Pendidikan Tinggi, setelah masa Sekolah Menengah Atasnya (SMA) usai. Karena latar belakang keluarganya yang secara ekonomi tergolong pas-pasan, ayahnya yang bekerja serabutan dan berpenghasilan di bawah Upah Minimum yang ditetapkan pemerintah, serta ibunya yang hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga, akan ngos-ngosan ketika dibebani dengan biaya kuliah yang memang kurang bisa dijangkau olehnya.
Tapi keluarga Senja hidup dengan rasa optimis, sehingga ayah dan ibunya sedikit demi sedikit menabung untuk membiayai kuliah Senja. Walau rasa optimis itu pun sudah menghadapi masa krisis, karena memasuki semester tiga ini, Senja harus sudah membayar biaya kuliah. Padahal ibu dan bapaknya belum lagi mempunyai uang untuk membayarnya, dan uang tabungan pun sudah habis terpakai untuk biaya adik Senja yang baru memasuki SMA.
"Senja, Nja," Ibunya memanggil dari dalam rumah seolah ingin menunjukkan sesuatu.
Sahut Senja sambil terbangun dari lamunannya, "Iya Bu, ada apa Bu?"
"Lihat sini di TV, kayaknya itu universitasmu disebut-sebut, rektormu korupsi sampe milyaran tuh jumlahnya."
"Eh iya bener Bu, kayaknya nggak dimana-mana berita isinya kasus korupsi semua, sekarang malah rektorku yang masuk berita, hahaha lucu juga ya."
"Heh, kamu kok malah ketawa sih nak, bagaimanapun juga yang dikorupsi itu kan duit rakyat, duit kita juga," tutur Ibu mencoba menjelaskan.
"Tapi Bu, mau dikorupsi sebanyak apapun juga nggak akan ngaruh ke kita kan Bu? Tetap saja kita hidup pas-pasan dari dulu."
"Kalau masalah pas-pasan sih iya nak, tapi kalau duit buat pendidikan aja sampai dikorupsi juga, berarti selama ini kan ada pangkas-memangkas dana, dan akhirnya coba lihat berapa biaya yang harus kita bayar buat universitas? Dari kamu semester satu hingga saat ini rasanya biayanya semakin mahal saja."
Senin, 23 Februari 2015
Apes
Pagi ini gue punya 3 plan :
1. Bimbingan ke Bu Riris. Sebab udah 2 minggu lebih 3 hari gue nggak ngurus skripsi, gegara gue tinggal ke jogja utk kerja organisasi. Juga karena semalem si Surya bilang, "Ji, dicariin noh ama Bu Riris".
2. Ambil laptop. Karena sama nasibnya kayak yang nomer 1, ditinggal udah 2 minggu lebih tiga hari. Plus emang gue butuh banget laptop untuk ngerjain skripsi.
3. Ambil celana di penjahit. Mumpung lagi dpt pinjeman motor, dan mumpung lagi inget. Gue ninggalin celana sejak September 2014.
Realisasi
1. Gue ke kampus jam 9
Bu Riris blm dateng. Terus gue sms deh kpn beliau ke kampus.
2. Gue ke tempat service laptop. Ternyata belum jadi juga. Katanya seminggu lagi.
3. Gue ke penjahit. Yang kali ini ga mungkin belum selesai. Tapi apa daya. Kayaknya gue emang lagi siap. CELANA GUE BELOM DIGARAP. Gue pengen marah tapi ga enak ama Bapaknya. Takutnya dia lebih galak. Terus Bapaknya minta nomor HP gue, biar kalo dah jadi nanti bisa tinggal dikontak.
4. Harapan satu-satunya tinggal balesan SMS dari Bu Riris. Dan di tempat penjahit itu gue dapet balesan. Beliau bilang, "Ga saya bawa, besok aja ya". (-_-) Apes banget gue.
5. Akhirnya gue bikin plan dadakan, yaitu ngelaundry dan beres-beres lemari yang baru aja gue pindahin dari kamar Seto.
Evaluasi
1. Selalu SMS dosenmu lebih pagi, sebelum berangkat ke kampus.
2. Kalau ke penjahit, tempat service, atau tukang apapun itu yang menyediakan jasa tertentu yang bisa ditinggal, perlu dicek progressnya seminggu sekali.
Kesalahan dalam berpraktek ini semoga bisa menjadi bahan pembelajaran bagi pembaca di kemudian hari.



